Pagi itu langit biru, bening, jernih dan asri. Tampak kabut di pertengahan lereng gunung, di tengahnya sebersit garis putih tampak di antara hijaunya pepohonan. Cantiiikkkk….. Ternyata itu air terjun. Sayang, karena sdh janjian, jadinya ndak sempet ‘njepret’ fenomena itu.
Setelah pertemuan singkat dg tim Kaliandra, akhirnya kita satukendaraan meluncur ke Malang, ke KPH Pasuruan di jalan Kawi, Malang.
Diskusi cukup hangat, diskusi mengenai konservasi di Wilayah Pengkuan KPH Pasuruan. Tanggapan cukup hangat dari tuan rumah.
Gayung bersambut, ternyata disana juga sedang direncanakan untuk konservasi di lahan-lahan kritis dan DAS di wilayah KPH Pasuruan.
Kali ini kami menawarkan Bambu sebagai materi untuk konservasi lahan kritis tersebut. detail nya… kenapa mesti bambu, nanti di bahas di topik lain
Abis Jum’atan… makan dulu di Pecel Kawi… enak tenannnn
Cabut ke Kaliandra lagi, sesampai disana diceritain kalau ada sebuah air terjun yg sudah mati selama 5 tahun, dan baru ‘hidup’ lagi tahun ini.
Curug Deleg… aku panggilnya Curug Ki Deleg. ‘Ki’ sebuah panggilan kehormatan bagi ’sumber kehidupan’. Air yang akan mengalir sepanjang sungai, membawa berjuta manfaat bagi kehidupan makhluk di bumi ini.
Let Our Earth Take A Breath Again…..
Curug Ki Deleg sempat mati suri sejak 2003. Dari informasi yang ada, banyak penebangan liar dan kebakaran hutan. Kebakaran, atau dibakar untuk alibi lain ? Wallohualam, tiap kita akan bertanggung jawab atas apa yang akan kita lakukan.
Tahun 2006, masih terjadi kebakaran seluas +- 3.000 ha
Tahun 2007, masih terjadi kebakaran seluas +- 850 ha
Alhamdulillah, tahun 2008 Curug Ki Deleg kembali mengalirkan airnya, menuju hilir untuk kita semua. Semoga kita bisa saling menjaga, saling mengisi, dan bersama berkiprah menjaga alam anugerah Nya.
